Selasa, 06 Oktober 2020

Kamar

Saat penat, rebahan di kamar menjadi pengobat. 

Saat sedih, menangis di kamar mengurang perih

Saat bahagia, bercengkrama di kamar bersama keluarga

Saat rindu, melamun di kamar menjadi candu

Saat sibuk, berkutat di kamar semalam suntuk

Saat sepi, diam di kamar menyendiri

Saat kantuk, nyaman bergelung, guling dipeluk

Kamar.. tempat teraman melepas segala topeng diri


 


Adek udah Bisa bilang "Kakak"

Adek udah umur 4, tapi ada banyak pelafalan yang dia belum fasih. Huruf N sama M kadang ketuker, Huruf K jadi T, R juga masih cadel jadi L.
Biasanya, adek bilang minum jadi mimum. Eh, kemarin dia tau-tau bilang "Ma, adek mau minum". Tapi kadang-kadang masih suka kepeleset lagi jadi mimum. Tiap dia bilang mimum lagi, mesti kami benerin. Eh, yang bener apa? Lalu dia benerin jadi minum... 

Nah, kemarin ada perbaikan lagi di pelafalan adek. Dia sudah bisa bilan Ka Ki Ku Ke Ko. Walau bilang K nya masih belom loss.. kayak ditahan di tenggorokan gitu.

Jadi sekarang adek udah bisa bilang Kakak, ga Tata lagi. Manggil Akung juga udah ga Atung lagi. Tapi ya gitu, kadang-kadang dia lupa. Masih balik ke kebiasaan dia yang lama. Kalo udah begitu, tugas kami mengingatkan lagi supaya adek bisa melafalkan dengan betul.

"Tapi kalo L (maksudnya mau bilang R) adek belum bisa" Katanya. "Ädek bisanya bilang L yang hurufnya itu gini ma, sreet (menggambarkan di udara dengan jarinya, garis tegak lurus) terus ada garis di bawahnya (menggambarkan di udara garis horizontal)" hohoho.. dia menulis L di udara... memastikan aku ga ketuker antara R dan L. Karena dia nyebutnya masih sama

Semoga nanti semakin jelas ya de ngomongnyaaa..

Jumat, 02 Oktober 2020

Yang kunanti dengan tak sabar

Corona pergi. Itulah hal yang kunantikan dengan tak sabar. Entah kapan pastinya. Namun kuharap dalam waktu dekat. ASAP.

Pandemi usai. Lalu kita bisa bercengkrama tanpa perlu lagi dibatasi jarak. Bebas menyapa dan berjabat erat. Bebas mencurahkan asa sambil memeluk hangat.

Covid musnah. Dan segalanya kembali berjalan normal. Beribadah lebih leluasa, sekolah kembali dibuka, ekonomi bergulir. Segala cemas sirna.

Aku menanti dengan tak sabar. Dunia pulih.



Hadiah terindah

Aku tidak bisa menemukan kata-kata. Untuk menggambarkan kehadiran mereka dalam hidupku.

Mereka, yang membuatku selalu bertahan dalam setiap badai. Mereka, alasan aku selalu menjejakkan kakiku kuat. Mereka, yang menerimaku apa adanya.

Dia yang menggedor pintu kamar mandi setiap kali aku membersihkan diri sepulang dari kantor. Lalu berteriak tak sabar "mama, cepetan mandinya.. adek kan mau peluk!”

Ia yang badannya sudah hampir menyamaiku namun masih senang kugendong dari tempat tidur ke kamar mandi.

Mereka... Yang selalu berat hati melepasku berangkat bekerja setiap pagi.

Anak-anakku... Yang kemilaunya menyinari langkahku. Penunjuk jalan, setiap kali tersesat di persimpangan.

Rabu, 30 September 2020

Belajar apa aja?

Aku tuh pembelajar yang cukup lambat. Lamaa sekali sampai sadar kalo Allah lagi ngajarin aku sesuatu. Tapi di antara semua pelajaran berharga yang aku dapet, aku rangkum beberapa yang menurutku cukup membawa perubahan di hidup aku.

* Jangan suka ngarep kalo gak siap kecewa

* Harus husnudzhan. Sama apapun, sama siapapun

* Belajar bilang Nggak, Tidak, Gak bisa. Gak semuanya harus di Iyain

* Kalo masih ragu, mending gak usah.


Dan ada beberapa hal yang masih harus aku pelajari. Karena prakteknya susah banget.

* Love your self first. Susah banget buatku. Sampe saat ini aku selalu ngerasa gmn yaa, kayak ga punya sesuatu gitu yang berharga yang membanggakan di diri pribadi

* Sabar. Khususnya kalo menghadapi anak-anak. Ujian terberat banget

* Kurangi ngelamun. Hahaha.. susah banget. Kebiasaan. ngelamun dan ngomong sendiri. Dua hal yang sulit dihindari


Mungkin itu ya sementara. Kalo nanti tiba-tiba keinget hal lainnya. aku update lagi.

Selasa, 29 September 2020

Sesah hilapna

Aku agak kesulitan kalau harus menuliskan lagu favorit. Bukan apa-apa, aku jarang sekali menikmati musik. Kalaupun iya, biasanya karena disarankan orang lain atau random tersesat di beranda yutub.

Tapi belakangan ini, sering tanpa sadar mendendangkan lagu yang dulu pernah dibawakan grup gamelanku waktu SMP. Nama grupnya, degung kameumeut...

Aku ga tau siapa penyanyi aslinya.. yang jelas bu Evi dan Desi (temenku sang sinden yang suaranya halimpuuu pisan) menyanyikan lagu ini dengan indah.. dan aku suka. Sampai sekarang masih terngiang-ngiang.

 

Sesah Hilapna

 

asa asa urang teh nembean tepang

(rasa-rasanya kita baru bertemu)

aya kereteg hate dugdeg surser sesah hilapna

(ada firasat hati dag dig dug ser, sulit melupakannya)

gening bet sungkan papisah

(ternyata enggan berpisah)

duuuh sesah hilapna

(sulit melupakannya)

kantenan urang teh nembean tepang

(apalagi kita baru saja bertemu)

aya nu eunteup gerentes kadeudeuh

(ada yang singgah perasaan sayang)

sesah hilapna

(sulit melupakannya)

nyanding asih dina ati

(ada rasa sayang dalam hati)

duh sungkan patebih

(enggan berjauhan)

ayeuna urang ngahiji

(sekarang kita bersatu)

geus jadi batur sa ati

(menjadi teman sehati)

gemulung siang jeung wengi

(siang dan malam)

duh bagja nyanding asih

(bahagia merasakan cinta)

teu kaop teu tepang sadinten

(tidak bertemu sehari saja)

teu kawawa ku rasa kangen

(tidak tahan dengan rasa rindu)

teu benang dipapalerkeun

teu benang dibebenjokeun

 

Tiap denger lagu Sunda, rasanya nyesss kana hate. Apalagi kalo pas di perantauan gini dengerinnya. auto keinget kampung halaman deh...


Senin, 28 September 2020

Masih

Alhamdulillah, masih punya pekerjaan, sementara yang lain di luar sana banyak yang kehilangan, atau belum mendapat pekerjaan.

Alhamdulillah, masih diberi kesehatan. Di tengah pandemi, semakin terasa begitu berharganya kesehatan.

Alhamdulillah, Allah masih sayang... Masih diberi usia untuk memperbaiki diri...

Alhamdulillah, hari ini masih diberi kesempatan menghirup udaraNya dengan penuh kelapangan... 

Alhamdulillah, aku masih jadi bagian dari semesta...